Konyolnya Agama-Agama

Saya lahir di sebuah keluarga Katolik yang biasa-biasa saja. Dari kecil, sebenarnya banyak pertanyaan-pertanyaan atas kebingungan2 yang muncul dalam benak saya, yang kemudian kembali terpendam oleh segala pernyataan dogmatis dan ritual agamis yang tak boleh dikritisi oleh siapapun. Ya, begitulah saya dikondisikan untuk percaya saja dan menganggap agama lain sesat. Saya menghafalkan doa2 kata per kata, menyalahkan diri sendiri karena mengantuk di gereja dan susah berkonsentrasi hingga salah menghitung butir2 doa rosario, melihat orang2 termasuk Ibu saya berdoa dengan gaya mengiba hingga menangis seperti seorang pengemis yang meminta-minta pada Tuhannya dan saya hanya bisa bertanya-tanya mengapa? Mengapa harus seperti itu?
Segala pertanyaan yang mengganjal itu seolah bangkit perlahan seiring dengan kemajemukkan yang terus saya lihat di sekitar saya.
Dari TK sampai SMP, saya bersekolah di sekolah Katolik. Baru saat SMA, untuk pertama kalinya, saya merasakan bersekolah di sekolah negeri, yang mayoritas adalah muslim.
Disitu saya mulai tersadar, bagaimana dulu teman-teman saya yang muslim dan kristen dipaksa untuk belajar tentang agama katolik bahkan diminta menghafalkan doa-doanya. Memang sih, salah mereka sendiri karena memilih sekolah katolik. Tapi, ya... ini adalah kekonyolan pertama dari agama yang saya sadari.
Pertanyaan saya kemudian pada waktu itu adalah... kenapa ada banyak agama? Mana yang benar? Tuhan ada berapa? Jika Tuhan hanya satu kenapa cara berdoanya berbeda-beda? Jika tidak masalah caranya berbeda-beda, lalu kenapa orang menyesalkan saat orang lain berpindah agama? Kenapa?? Lalu kenapa semua mengaku paling benar? Jawaban2 alkitabiah rasanya tak sanggup membungkam segala keingintahuan saya. Jawaban orang Kristen Katolik yang selalu merasa menjadi umat pilihan paling benar yang akan diselamatkan oleh Juru Selamat malah justru membuat saya diam2 mulai muak dan membenci agama yang diskriminatif ini. Nyatanya agama2 lain juga seperti itu, saling mengharam jadahkan agama lain, dan merasa paling benar. Ya, semua sama saja.
Saya tak habis pikir ada tata cara tertentu untuk bertemu Tuhan. Harus dengan gerakan khusus, menghadap arah tertentu, memakai baju khusus, dan yang paling konyol adalah... wanita harus berada di belakang dan tidak boleh pegang anjing. Dan banyak hal2 konyol lainnya. Kenapa?
Selogis apapun makna dan maksudnya. Ketika orang telah memaksakan makna2 simbolik itu menjadi sebuah aturan yang wajib dipatuhi untuk kemudian dijanjikan surga bagi yang tunduk dan neraka bagi yang melawan, otomatis ini menjadi sangat konyol dan lucu. Apa iya, Tuhan seperhitungan itu?? Saya bingung kenapa semua orang patuh2 saja pada agamanya dan tidak ada yang bertanya-tanya seperti saya? Bahkan orang2 cerdas dan berpendidikan sekalipun tak mempertanyakan apa relevansi aturan2 kitab suci yg cocok untuk ribuan tahun yang lalu sehingga harus tetap diaplikasikan dijaman sekarang. Apakah Tuhan tidak mau mengikuti perkembangan jaman?
Saya semakin "marah" saat guru sosiologi SMA saya mengatakan bahwa fanatik pada agama itu perlu supaya kuat imannya. Hati saya berontak. Saya mulai membenci agama yang bagi saya hanya mengajarkan kebencian satu sama lain. Kebencian yang dipendam dalam diam satu sama lain. Dan bagi saya, ini sangat konyol.
Sejak saat itu, saya mencoba mencari-cari sendiri. Saya mencoba menjadi obyektif an membuang segala atribut keagamaan yang sudah ditanamkan pada diri saya sejak kecil.
Saya mempelajari semua pesan inti sari semua agama, dari para suci. Saya mencoba mencari benang merah dari semua ini. Dan saya mulai belajar tentang spiritualitas. Siapa saya? Siapa manusia? Kenapa manusia lahir, kemana setelah mati, dsb. Semua membawa saya pada kesadaran diri yang sejati. Yang sampai sekarang masih saya pelajari. Saya tak lagi mencari Tuhan yang ternyata bisa saya bentuk dengan kesadaran kita sendiri. Melihat ke luar bumi, saya sadar ada banyak hal di luar sana yang belum kita ketahui. Dan saya tidak mau sok tahu.
Saya kemudian semakin sadar bahwa agama itu cocok untuk manusia2 yg belum bisa "sadar" sendiri rumahNya ada dimana. Jadi merasa perlu "alat bantu/kendaraan" supaya bisa mengantar sampai ke "rumahNya". Ini yang namanya, orang sudah ada dirumah, tapi bingung mau pulang ke rumah. Merasa masih butuh kendaraan untuk bisa mengantar pulang. Padahal jalan sendiri juga bisa. Bahkan gak perlu jalan, cukup "diam" saja dan sadar kalau masing2 kita sedang ada dirumahNya.
Kacaunya, orang2 yang pakai kendaraan ini kelewat mabok sendiri2. Dari yang tujuan awalnya mau cari jalan pulang ke rumah, malah jadi ngelantur kemana-mana, dari saingan jenis dan model "kendaraan" terbaik sampai saingan "jalan/rute" yang paling benar, padahal ujungnya dimana juga masih sama2 ga jelas..  tapi sama2 yakin dan pede saja dengan imaginasinya masing2 dan saling bersaing mengunggulkan kendaraannya. Lucu ya?
Selama ini banyak pengamatan2 yang membuat kesadaran saya makin terbuka bahwa agama itu, yang awalnya tak lebih dari ajaran spiritual sederhana dari para suci (yang sudah sadar sesadar2nya dan ngajarin kita supaya bisa ikut sadar juga) telah ditunggangi dan dibuat lebai (kalau tidak boleh dibilang sesat) oleh adat istiadat, kepentingan, politik dan berkembang dalam halusinansi pembenaran bak cinta buta kaca mata kuda dari masing2 pengikutnya.
Saya pikir, bertemu Tuhan, Allah, Yang Maha Apa Saja, The Higher Self (yang wujudnya berbeda2 sesuai imajinasi tiap orang dan kepercayaannya) tak perlulah serumit itu.
Kekonyolan2 agama semakin tertampang jelas di mata batin saya.
Apa iya? bertemu Tuhan harus pakai gerakan begini begitu? Harus ngadep sana ngadep sini? Harus pakai ini pakai itu? Harus ngapalin mantra ini doa itu? Harus berulang-ulang baca buku tebal dari tahun baheula yang padahal intinya cuma sederhana saja? Harus pakai bunga, kemenyan, lilin? Harus pakai bahasa arab? Bahasa roh? Ga boleh makan ini itu? Hukumnya begini begitu? Wanita doa dibelakang pria? Mens ga boleh puasa?
Kalau ditanya kenapa? Jawabnya... itu semua ada maknanya dan semua tertulis dalam bla bla bla... Ok mungkin semua makna simbolik itu memang ada maknanya sesuai selera si pembuat, Tapi pernahkah anda bertanya relevansinya pada pertumbuhan spiritual diri anda sendiri? Jujur, apakah anda nyaman dengan segala ritual delusional itu? Coba lihat di tempat2 ibadah itu. Kebanyakan mereka adalah manusia2 munafik yang sok nyaman dengan ritualnya padahal ada yang ngantuk ada yang pikirannya kemana-mana. Ya, termasuk saya. Itu artinya apa? Mereka ini sejujurnya tidak nyaman dengan semua ritual simbolik itu. Tapi dipaksa. "Eh jangan maen2 hp di tempat ibadah nanti Tuhan marah, nanti kamu masuk neraka !"
Haloooo?
Lebih konyol lagi kesaksian orang2 yang saling murtad dari agamanya... dihujat di agama asal, disambut red karpet diagama seberang. Yang paling sering denger tuh ya antar agama Abrahamik/Samawi yaitu islam dan kristen/katolik.
"Ada kesaksian biarawati masuk islam"
Orang kristen bilang... murtad woi murtad.. siap2 masuk neraka lo!
Orang islam bilang... alhamdulillah udah dapat hidayah sekarang kita saudara...
"Ada kesaksian ustad masuk kristen"
Orang islam bilang... siap2 kena azab! Dibakar dineraka! Dasar kafir!!
Orang kristen bilang... haleluya! Praise the lord kamu terselamatkan oleh Juruselamat!
See????
Ngomong2 soal keselamatan.
Saya pernah interview di sebuah institusi yang kristen abis.. dan untuk masuk kesana orang2nya harus kristen sejati dan setidaknya tahu password surganya orang kristen yaitu "arti keselamatan/juru selamat?" Jadi intinya, orang kristen itu adalah orang2 terpilih, terberkati dan spesial karena asal mereka percaya pada yesus, maka meskipun dia sejahat apapun tapi sebelum mati dia percaya/beriman pada yesus... maka dia akan "selamat". Trus yg lain ga bisa selamaat kecuali dapat hidayah percaya a.k.a murtad dari agamanya lalu percaya yesus. Diskriminatif dan delusional banget ga sih???
Saya pernah denger orang Kristen ngomongin org Buddha, "Dia tuh baik banget, tapi sayang belum dapat hikmat ketemu Juruselamat" ----> trus maksudnya apa? Kebaikannya ga diitung, dia tetep masuk neraka karena belom percaya yesus?
Jawabnya, "Itu otoritas Tuhan.."  Berarti, dia masih ada kemungkinan masuk surga? Berarti Tuhanmu ga konsisten dong? Ah sudahlah!
C'mon! Wake up!
Intinya apa sih?
Agama saat ini tak lebih dari warisan orang tua/keluarga. Yang makin kesini makin mirip anak kecil dipaksa pakai baju. Diem aja pasrah dan didoktrin untuk mencintai baju itu sebagai baju terbaik. Kalau anaknya tanya ke orang tuanya kenapa dikasih baju itu, dijawabnya, penjual bilang ini baju terbaik, semua dari nenek kakek papa mamamu juga pakai baju dari sana. Sudah kamu tak perlu banyak tanya!
Orang tua lupa bilang tentang fungsi baju itu (esensi/saripati), ya supaya kamu ga kedinginan dan ga malu karena telanjang :)
Saya sering berpikir kalau misalnya anda lahir di keluarga Koghucu atau Hindu atau Kejawen misalnya, pasti anda ga akan bela2in agama yg anda anut sekarang yg anda dapat secara turun temurun dari orang tua.. ya kan? Ya kan? "Ah nggak kok, saya tau ajaran agama2 lain dan saya tau mereka yang sesat!" Ah sudahlah.
Inilah yang selama ini saya rasakan. Saya merasa semua ini konyol. Tapi cuma sedikit yang mau buka mata secara obyektif dan mencoba untuk sadar sesadar sadarnya.
Yah semoga kesadaran spiritual manusia mulai banyak yang bertumbuh. _/\_
Kita itu cuma butuh "sadar" lho!

Pos populer dari blog ini

APA ITU HIDUP MINIMALIS

Menikmati Pesona Lereng Gunung Ungaran di Umbul Sidomukti

Peta Toko Benang Sunflower