DECLUTTERING


Kurangi timbunan! Membuang yang tak perlu.

Kebiasaan mensortir barang-barang yang sudah jarang dipakai untuk dihibahkan atau dibuang sebenarnya sudah saya lakukan sejak lama. Tapi sepertinya tidak ada perubahan berarti. Kamar saya tetap penuh dan “ramai”.  Pakaian, mainan, pajangan, buku, kertas dan “sampah-sampah” lainnya yang dibuang nampaknya tidak lebih dari 10%. Jelas saja timbunan barang masih terasa disana sini.
Sekarang saya baru sadar, dulu, keterikatan semu saya terhadap barang masih sangat kuat. Setiap akan menyingkirkan “sampah-sampah” itu, selalu muncul penyakit lama, “dibuang sayang.” Melihat tas robek yang bahannya lucu, eh.. tidak jadi dibuang. Melihat cermin yang masih bagus di dalam dompet rusak, eh.. tidak jadi dibuang. Begitulah seterusnya, hingga niat awal yang sebelumnya ingin mengurangi timbunan beralih menjadi menata kembali, tidak ada perubahan berarti. Timbunan itu tetap ada! Tak peduli seberapa sering melakukan decluttering, timbunan itu tidak akan menghilang!

Semua berubah ketika saya mulai belajar tentang hidup minimalis. Siapa sangka keterikatan semu itu perlahan menghilang hingga saya berani menutup mata dan sanggup menyingkirkan hingga 70-80% barang-barang saya. Pakaian, sandal, sepatu, pajangan, dan barang-barang lainnya yang biasanya saya sayang-sayang dan gagal dibuang sekarang menghilang begitu saja dan jauh berkurang. Tak ada lagi alasan dibuang sayang. Untuk sampai pada titik ini memang tidak tiba-tiba begitu saja. Saya juga mengalami proses trial and error, mengubah kebiasaan lama dan menyingkirkan perasaan dibuang sayang terhadap barang-barang saya lakukan secara bertahap. Saya mulai dengan membuang benda-benda yang memang sudah rusak. Jika dulu saya melihat barang-barang yang rusak itu sebagai bahan baku kerajinan tangan yang baru, sekarang saya mencoba untuk menutup mata, tanpa pertimbangan ini itu langsung saya masukkan ke kardus untuk dibuang. Begitu seterusnya sehingga logika saya sanggup mengalahkan perasaan semu itu. Untuk apa menyimpan barang yang tdak berguna dan hanya menimbun sampah?


Efek dari decluttering ini sangat melegakan dan memuaskan. Terlihat perbedaan yang cukup signifikan. Ruangan menjadi jauh lebih lapang dan lega. Jika dulu saya membersihkan kamar beberapa bulan sekali dan hasilnya hanya sebatas perubahan dari berantakan menjadi rapi, sekarang tidak hanya menjadi rapi, namun ruangan menjadi plong! Seperti punya kamar baru yang belum punya banyak barang. Manfaatnya jelas, saya tidak perlu sering-sering membersihkan kamar. Dengan sekali melakukan decluttering skala besar yang berhasil mengosongkan 70% isi lemari saya untuk dihibahkan atau dibuang, selanjutnya saya hanya cukup melakukan decluttering skala kecil untuk memastikkan bahwa saya tidak sedang membuat calon timbunan baru.


Pos populer dari blog ini

APA ITU HIDUP MINIMALIS

Menikmati Pesona Lereng Gunung Ungaran di Umbul Sidomukti

Peta Toko Benang Sunflower