BERDAMAI DENGAN TUBUH FISIK

"Rambut ikal, di smoothing
Tubuh pendek, pakai high heels
Badan gendut, diet /sedot lemak
Warna kulit gelap, pakai pencerah
Mata sipit, hidung pesek, operasi plastik
Kenapa terus berpura2? Tidak capek?"

Saya merindukan diri saya di masa SD, dimana waktu itu setiap pagi  saya pergi ke sekolah tanpa make up dan merasa tidak ada yang kurang atau terlewatkan.

Mandi, ganti baju, sisiran, langsung ke sekolah. Pakai bedak tabur juga karena terbiasa dari kecil dipakaiin bedak oleh orang tua. Tidak tahu maksudnya buat apa. Tidak ada kebiasaan bangun lebih pagi demi berdandan atau catok rambut. Sederhana dan apa adanya. Saya ingin kembali seperti itu.

Saya juga heran sekaligus iri dengan kaum pria yang tak pernah pusing dan bebas dari tuntutan “masyarakat” untuk berdandan saat mau pergi kemana saja (meskipun sekarang banyak juga laki-laki metroseksual yang memperhatikan penampilan). Seolah sudah menjadi kodrat seorang perempuan bahwa dia harus berdandan dan mempercantik diri, apalagi jika ingin menarik hati lawan jenis. Jadi, terlihat bersih dan rapi saja tidak cukup. Arus perkembangan tren kecantikan juga telah membawa perempuan untuk tidak pernah puas dengan fisiknya. Semua mengejar kesempurnaan rupa dan  melupakan dirinya yang apa adanya.

Saya capek smoothing tiap tahun. Saya capek berpura-pura bahwa rambut saya lurus. Tiga tahun sudah saya terbebas dari smoothing. Rambut asli saya yang ngombak tampil apa adanya. Kalau ada yang bilang rambutnya tidak rapi bilang saja memang rambutnya begini adanya. Kalau ada yang bilang mukanya kusam bilang saja memang kulitnya sawo matang mana bisa cerah? Kalau ada yang bilang tubuhnya  pendek, bilang saja iya, trus kenapa? Saya tidak akan menyesalinya lalu pura-pura tinggi dengan pakai high heels.


Hidup minimalis mengubah pandangan saya soal kebiasaan berdandan. Hidup sederhana mengajarkan saya untuk bisa belajar menerima diri apa adanya. Menghabiskan uang dan waktu untuk mempercantik diri menjadi suatu hal yang berlebihan bagi saya. Terbebas dari masalah jerawat, itu sudah lebih dari cukup. Meskipun wajah saya tidak secerah atau sekinclong dulu, tapi keberanian untuk tampil apa adanya adalah suatu kemerdekaan tersendiri bagi saya. Saya tidak peduli apa kata orang. Bagi saya, bersih dan rapi itu sudah leih dari cukup.


Pos populer dari blog ini

APA ITU HIDUP MINIMALIS

Peta Toko Benang Sunflower

Menikmati Pesona Lereng Gunung Ungaran di Umbul Sidomukti