SPIRITUALITAS YANG SESUNGGUHNYA

COPY PASTE DARI NOTE FB
Bapak Sonny Sumarsono Wuryadi

SPIRITUALITAS YANG SESUNGGUHNYA
Di planet ini, berapa banyak orang yang beragama? Berapa banyak   tempat ibadah? Berapa banyak orang yang taat menjalankan ritual   agamanya? Kita tahu jumlahnya luar biasa banyak. Tapi mengapa   kemiskinan, kelaparan, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, peperangan   dan bencana alam terus merajalela? Sudah berapa banyak dari kita   memohon, berdoa pada Tuhan untuk mengakhiri semua itu? Tapi kegelapan   tak kunjung sirna, bahkan manusia semakin individualis, bringas, bencana   alam kian mengganas. Lalu apakah yang keliru?

Ini   karena mayoritas manusia Bumi terfokus untuk menjadi relijius bukan  menjadi  spiritual. Spiritual berbeda dengan relijius. Spiritual tak ada   hubungannya dengan agama. Meskipun pada akhirnya agama akan menjadikan  manusia menjadi spiritual. Tuhan menghendaki kita untuk menjadi manusia   spiritual bukan relijius. Tiap agama mengklaim bahwa ajaran mereka  yang paling benar dan lainnya salah. Apakah sesungguhnya Tuhan lebih  menyukai  agama tertentu? Jika iya, mengapa setiap terjadi bencana Tuhan  tak  hanya menyelamatkan umat agama tertentu saja ?


Spiritualitas  yang sesungguhnya adalah kemampuan setiap jiwa untuk  hidup selaras dengan Sang Pencipta, hidup sesuai kehendakNya. Lalu  bagaimanakah hidup  yang selaras dengan Sang Sumber itu? Ingatlah, Tuhan  kita, Sang  Sumber, ada dalam setiap ciptaanNya. Oleh karena itu hidup  selaras dengan Sang Pencipta, adalah dengan hidup harmonis dengan  seluruh  mahlukNya. Ini menyangkut KASIH & KESADARAN. Sekali lagi, KASIH  & KESADARAN adalah inti dari spiritualitas. KASIH &   KESADARANlah yang menentukan kualitas jiwa seseorang. Baiklah,  pertama-tama kita akan membahas soal KASIH atau CINTA. Semua  orang  tentu sudah tak asing lagi dengan istilah ini. Tapi apakah kita mengerti apa itu KASIH atau CINTA?


CINTA = KASIH, CINTA adalah   mengasihi, memberi tanpa mengharapkan imbalan. Tidakah itu sederhana? Ya, tetapi pelaksanaannya yang sulit. Pemahaman CINTA dari kebanyakan manusia Bumi sungguh sempit. Hanya sebatas CINTA kepada lawan jenis. Hubungan percintaan antar lawan jenis seperti yang kita tahu. Apakah  ini  sungguh-sungguh CINTA? Berapa banyak orang yang mengaku mencintai  lawan jenisnya, lalu berkata “Aku mencintaimu, untuk itu jadilah  pasanganku”.  Kembali ke konsep awal bahwa CINTA memberi tanpa  mengharapkan imbalan. Tentu ini bukanlah CINTA. Karena CINTA MEMBERI  bukan MEMINTA. Konsep CINTA mayoritas manusia Bumi yang amat sempit, membuat dirinya hanya  memikirkan pasangan dan keluarganya. Padahal  CINTA yang sesungguhnya  adalah kepada semua manusia, hewan, tumbuhan,  Bumi, semua mahluk. KASIH yang lebih dalam dapat dilihat  dari kualitas- kualitas berikut:  KASIH itu tak ada benci. KASIH tak ada  keserakahan. KASIH tak ada kecemburuan. KASIH tak ada iri-dengki. KASIH tak ada kesombongan. KASIH  itu tidak agresif.

KASIH tak ada  kebohongan. KASIH tak ada kompetisi.  KASIH tak menyakiti. KASIH selalu melindungi. KASIH itu sabar menanggung  segala sesuatu. KASIH tak  melakukan hal yang tidak sopan. Nah… dari  kualitas-kualitas tersebut sudah berapa banyak yang ada pada diri kita?  Sudahkah kita hidup dengan  KASIH?


Selanjutnya adalah soal KESADARAN, orang yang sadar pasti mengerti.  KESADARAN disini adalah pemahaman bahwa semua  mahluk Tuhan adalah SATU,  bagian dari Sang Sumber. Seseorang yang sadar  bahwa setiap mahluk Tuhan  terhubung, bahwa KITA SEMUA SATU, tak akan  menyakiti yang lainnya. Ini bisa diibaratkan kita adalah satu tubuh.  Jika salah satu bagian tubuh  ada yang sakit, tentu seluruh tubuh akan  merasakannya. Namun apa yang  terjadi saat ini? Manusia menyakiti alam,  Bumi tempat tinggalnya, manusia lain, bahkan dirinya sendiri. Polusi di tanah, air, udara, juga  di tingkat ether dari pikiran dan emosi  negatif manusia. Penganiayaan,  pemerkosaan, pembunuhan, anarki,  kompetisi, penipuan, diskriminasi, ketidakpedulian. Bahkan manusia Bumi  bersuka ria atas semua itu. Semua  hal negatif ini begitu pekat,  terutama di daerah perkotaan, dimana manusianya sangat individualis.


KESADARAN  yang selanjutnya adalah mengerti bahwa Tuhan tak hanya  menciptakan  manusia Bumi di jagat raya yang amat luas ini. Kita tahu Tuhan kita  Maha Bijaksana, Dia tak akan memboroskan energi yang besar,  untuk menciptakan jagat raya ini hanya untuk satu ras manusia Bumi dan sisanya dibiarkan kosong begitu saja. Apalagi harus menunggu manusia Bumi untuk bisa menjangkau lalu menempatinya. Umur bumi kita setidaknya   sudah 5 milyar tahun, selama itu bahkan untuk menjelajah angkasa raya ini saja manusia Bumi belum mampu. Pemahaman mayoritas manusia Bumi tentang mahluk Tuhan sangatlah sempit, yang mereka tahu hanya tumbuhan,   hewan, manusia dan astral. Kenyataan bahwa jagat raya ini amatlah luas, dengan banyaknya planet/bintang yang ukurannya jauh lebih besar   dari Bumi, penampakan crop circle, spaceship, pesan via channeling serta   peradaban kuno yang berteknologi canggih, itu semua adalah bukti bahwa manusia Bumi tak pernah sendiri. Ditambah dogma-dogma yang mengatakan bahwa manusia Bumi adalah mahluk Tuhan paling sempurna, semakin membuat   mereka besar kepala saja. Jika memang manusia Bumi adalah mahluk Tuhan   paling sempurna, lalu apa kelebihan manusia Bumi dibanding astral?

Melihat mereka saja kita tak mampu. Dari segi kemampuan fisik, jelas astral lebih unggul, astral mampu berubah-ubah bentuk, berumur panjang, mampu telepati, telekinesis, teleportasi. Dari segi spiritualitas  astral  lebih mengerti dibanding manusia Bumi. Dari ilmu pengetahuan & teknologi astral pun tak kalah dengan manusia. Lalu apa yang  ingin kita  banggakan?


Selanjutnya adalah SADAR bahwa  setiap jiwa akan mengalami proses  pembelajaran dalam hidupnya melalui  proses reinkarnasi. Perjalanan hidup bagaikan sekolah, tujuannya untuk  belajar, supaya paham makna hidup  juga esensi Tuhannya. Seperti  sekolah, kehidupan juga ada  level/ tingkatannya, itulah sebabnya mengapa  ada perbedaan dimensi  kehidupan di alam semesta ini. Jika kita telah lulus di suatu tahap,  maka kita akan naik ke tahap selanjutnya, tahap  yang lebih tinggi. Tetapi jika tidak lulus, akan mengulang di tahap  yang sama, atau bahkan  tahap yang lebih rendah. Saat kelulusan kita  dari semua tahap adalah  saat kita kembali pada Sang Sumber. Keberadaan  astral di dimensi yang  lebih tinggi dari manusia Bumi sudah jelas  membuktikan adanya perbedaan  dimensi dalam kehidupan mahluk-mahlukNya.

Konsep  inilah yang sejak lama diajarkan oleh para avatar, spiritual  master,  lightworker seperti Jesus, Budha, Kwan Yin, Shiva dan lainnya… Mereka  tak ingin disembah. Mereka ingin manusia Bumi menjadi master  seperti  mereka. Namun manusia Bumi malah salah menginterpretasikan ajaran mereka hingga kini. Pada kenyataannya kebanyakan  extraterrestrial (et) sudah menguasai  apa itu spiritualitas sesunguhnya. Oleh karena itu, mereka sudah dapat  hidup di dimensi lebih  tinggi. Mereka mengerti bahwa alur yang baik  adalah dengan menguasai   spiritualitas terlebih dahulu, barulah teknologi. Sehingga ilmu  pengetahuan, teknologi, peradaban mereka maju  dengan pesat. Merekapun  mampu hidup harmonis dengan sesamanya juga alam. Berkebalikan dengan di Bumi dimana tanpa memperhatikan spiritualitas, teknologi berkembang,  namun digunakan untuk perang dan merusak planetnya  sendiri. Spiritual et sadar bahwa SEMUA MAHLUK DI ALAM SEMESTA ADALAH  SATU. Untuk itu  mereka tak henti-hentinya mengingatkan kita untuk meningkatkan  spiritualitas seiring dengan masa transisi/transformasi/evolusi Bumi  yang sudah di depan mata. Seseorang yang sudah mengerti  spiritualitas yang sesunguhnya akan  menyadari bahwa planet ini sungguh-sungguh rusak. Bahwa Ibu Bumi sungguh-sungguh menderita karena  ulah manusia dan ada di ambang  kehancuran. Mereka akan merasa sangat  tidak nyaman hidup di Bumi seperti  ini.

Untuk itulah ada  campur tangan Tuhan. Sekali lagi Tuhan kita yang  sangat welas asih tak  akan membiarkan mahlukNya menderita tanpa akhir. Tuhan sudah memutuskan  penderitaan Ibu Bumi cukup sampai disini. Bumi  harus  bertransisi/ bertransformasi/berevolusi dengan meningkatkan vibrasinya. Dan semua manusia yang ingin hidup di Bumi yang baru harus  bisa menyesuaikan vibrasinya dengan Ibu Bumi. Jika tidak, maka tak akan  bisa  hidup di atasnya lagi. Untuk itu akan ada seleksi untuk memilih   siapa-siapa yang berhak hidup di Bumi yang baru. Ini dilakukan dengan jalan pemurnian, pembersihan total dari semua energi negatif. Akan ada kekacauan dimana-mana, banyak sekali bencana, juga kehilangan. Tapi itu   perlu dilakukan, demi terciptanya Bumi sesuai rencana Tuhan semula, demi  tercipta kerajaan SurgaNya. Lalu bagaimana caranya untuk bisa  menaikan  vibrasi kita supaya selaras dengan Ibu Bumi? Jawabannya adalah dengan  meningkatkan spiritualitas.

Jadi… sudah seberapa siapkah kita untuk menghadapi transisi tersebut, sudah seberapa spiritualkah diri kita…?


Sumber : Psikologi Spiritual.
Love~light~joy
Sonny Sumarsono Wuryadi

Postingan populer dari blog ini

APA ITU HIDUP MINIMALIS

Peta Toko Benang Sunflower

Menikmati Pesona Lereng Gunung Ungaran di Umbul Sidomukti