KOLEKTOR SAMPAH

Berantakan!

Kamar berukuran 3x3m itu menjadi saksi betapa maksimalisnya saya dulu. Pakaian menumpuk di gantungan baju di belakang pintu. Nyamuk beterbangan begitu tumpukan baju itu ditepuk. Kertas kado, souvenir pernikahan, kerajinan tangan, majalah, poster, kerikil, benang, kerang, stik es krim semua ada di kamar itu.“

Sejak kecil saya memang suka dengan seni keterampilan dan hobi membuat kerajinan tangan. Melihat kertas kado bekas bermotif lucu saja, tangan saya rasanya gatal ingin membuat suatu karya. Seringkali jika belum terpikirkan akan membuat apa, kertas kado bekas itu tetap akan saya simpan. Begitulah seterusnya hingga barang-barang tidak berguna itu semakin memenuhi kamar saya. Entah itu di tembok, di kolong tempat tidur, di laci, atau di atas lemari, hampir tidak ada sudut yang kosong. Penuh barang dan sesak.  

Lama tak tersentuh, tak jarang debu menempel di sana sini. Bersih-bersih hanya sebatas rutinitas menyapu lantai tanpa mengotak-atik pajangan yang ada. Alhasil hanya debu lantai yang hilang, debu di perabotan rasanya terlalu rumit untuk dibersihkan satu persatu. Dibiarkan begitu saja sampai biasanya ada waktunya saya tiba-tiba terpanggil untuk rapi-rapi. Bisa tiga bulan, enam bulan, atau setahun sekali. Itupun hanya sebatas rapi-rapi ya, jadi sekedar menata kembali, bukan evaluasi untuk mensortir dan membuang apa yang rasanya memang tidak berguna. Batu kerikil dan kerang yang masih tak jelas mau diapakan, gagal untuk disingkirkan karena penyakit lama, "dibuang sayang".

"Belum tahu mau buat apa, tapi jangan dibuang dulu siapa tahu bla bla bla..."

Selalu saja pada akhirnya hanya sedikit barang yang kemudian rela disingkirkan karena rasa kepemilikan semu dibuang sayang, padahal tersentuhpun jarang. Begitulah saya selama bertahun-tahun.
Mungkin tak semua orang menyadari atau tak semua orang peduli bahwa kondisi ruangan sangat mempengaruhi mood dan produktivitas kita. Ini terbukti lho. Bayangkan ada dua kamar. Kamar A : Buka pintu, ada kasur berantakan, lalu isi lemari acak-acakkan. Pakaian menumpuk di atas sofa. Sugesti visual yang negatif cenderung membuat mood kita turun dan tidak bersemangat. Kamar B: Buka pintu, semua bersih dan rapi bak kamar hotel. Buka lemari juga sama, pakaian tersusun rapi dan teratur. Atmosfir positif yang langsung dapat ditangkap mata membawa sugesti dalam diri kita menjadi tenang sekaligus lebih bersemangat.


Terkadang masalah utamanya bukan hanya karena banyak barang, ada juga kamar yang “ramai”, alih-alih terkesan berantakan, kamar itu justru terlihat hidup dan energic. “Sepi” atau “ramai” ini lebih ke masalah selera. Yang paling diperlukan sebenarnya adalah ketrampilan mengorganisir barang. Di Jepang ada Marie Kondo, seorang penulis dan konsultan berbenah-benah, yang tentunya ahli soal rapi-rapi dan mengorganisir barang-barang di rumah. Bukunya terjual hingga jutaan eksemplar. Ini menunjukkan bagaimana sebenarnya orang-orang menginginkan hidup lebih rapi dan teratur.

Pos populer dari blog ini

APA ITU HIDUP MINIMALIS

Menikmati Pesona Lereng Gunung Ungaran di Umbul Sidomukti

Peta Toko Benang Sunflower