WABI SABI

Bukan cetakan mesin, tapi pahatan tangan yang kasar. 
Bukan mangkok porselen yang halus, 
tapi mangkok lempung yang bergelombang,  bahkan ada retakan. 
Bukan perabotan dengan ukuran presisi dan kesempurnaan finishing hingga ke setiap sudutnya, 
tapi meja kursi dari gelondongan kayu mentah, kasar dan berserat yang dibiarkan apa adanya, 
Bukan gagang sendok yang berbentuk lurus sempurna, 
tapi yang bengkok dalam proses tempaan. 


Itulah Wabi Sabi, suatu konsep estetika atau seni dari Jepang yang mengajak kita untuk dapat menghargai dan merasakan keindahan dari suatu ketidaksempurnaan, menikmati perubahan yang nyata dari siklus alam,  kelahiran dan kematian, ada dan tiada, mengagumi proses menua yang alami. Tanpa usaha keras untuk mempercantik apapun itu. "Kamu" / "Itu" indah apa adanya.

Mungkin ini nampak sebagai antitesa dari desain dan gaya arsitektur barat yang dikenal dengan totalitas dalam kesempurnaan matematis dalam perencanaan desain hingga tak melewatkan satu detailpun pada setiap karyanya. Wabi Sabi muncul sebagai suatu cara pandang dan aliran desain yang mencerahkan. Lagi-lagi kekuatan dari kesederhanaan yang membawa kita untuk bisa merefleksi diri dalam kontemplasi. Melihat segala sesuatu secara apa adanya tanpa berusaha mengubah secara ekstrim originalitasnya, lalu mulai jatuh cinta pada ke-"apa adaan" itu. Suatu bentuk konsep seni yang meditatif bukan?

Di dunia desain modern, sentuhan Wabi Sabi seringkali muncul dalam desain bergaya rustic. Desain-desain yang nampak mentah,  alami dan cenderung kasar seperti kursi atau meja dari potongan batang kayu yang dibiarkan masih utuh apa adanya dengan lekuk, serat kayu bahkan akarnya yang dibiarkan terekspos dan memberi nilai seni tersendiri. Dan justru disitulah seninya. Seni Apa Adanya. 


Postingan populer dari blog ini

APA ITU HIDUP MINIMALIS

Peta Toko Benang Sunflower

Menikmati Pesona Lereng Gunung Ungaran di Umbul Sidomukti